Menu Close

Perilaku dan Lingkungan Tertinggi Pada Kasus Stunting

Semarang- Dinas kominfo beserta 5 OPD lainya dilingkungan Pemkab Demak Diundang untuk mengikuti Acara Bimtek Penyusunan PerDa tentang Perubahan perilaku untuk percepatan pencegahan Stunting. Acara yang diselenggarakan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Stunting Sekretariat Wakil Presiden tersebut berlangsung di MG Suites Hotel Semarang.

Kegiatan diikuti sebanyak 38 Kabupaten/Kota dari tiga provinsi dijawa yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur berlangsung selasa 15 oktiber hingga 18 Oktober mendatang. 6 OPD yang diundang pada jajaran PemKab Demak meliputi Dinas Kominfo, Bappeda, Dinas PMD, DinDikBud, Dinas Sisosial, Dinas PU dan Dinas Kesehatan.

Menurut Rizkiyana Direktur Promosi Kesehatan, Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan dalam mengawali materinya dalam data yang ada tercatat jika lingkungan yang buruk menyumbang 40 persen, perilaku mencapai 30 persen, layanan kesehatan 20 persen, dan faktor genetik hanya menyumbang 10 persen dalam kasus stunting.

Ditambahkanya masalah stunting adalah masalah intergenerasi artinya, ditentukan oleh kehidupan sebelumnya. Remaja yang mengalami gizi kurang dimasa kecilnya dan terus berlanjut hingga menikah dan kemudian hamil, maka mereka akan sangat berisiko melahirkan bayi stunting.

“Itulah alasan pentingnya meningkatkan kesadaran publik dan mengubah perilaku kunci yang berpengaruh pada faktor risiko stunting melalui strategi komunikasi perubahan perilaku,” ucapnya

Stunting atau kerdil adalah gagal tumbuh pada anak berusia balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada periode 1000 hari pertama kehidupan ( HPK) yakni dari janin hingga 23 bulan.

Sementara dari Riset kesehatan Dasar/RisKesDas 2018 penurunan prevalensi stunting Balita tingkat Nasional sebesar 6.4% selama periode 5 thn terakhir. Yaitu 37,2% menjadi 30,8% dari tahun 2013-2018.(kominfo)

Bagikan