Menu Close

Industri Rebana Atur Strategi Di Tengah Pandemi

Demak -Kabupaten Demak mendapat julukan kota wali sebab memiliki peninggalan situs walisongo. Sebagai kota yang islami Tak sedikit pesantren yang berdiri dan berkembang kabupaten penghasil jambu merah delima ini. Tak sedikit karya seni islami yang dihasilkan dari tangan tangan ahli. Salah satunya alat musik rebana yang telah dikenal luas sangat berkwalitas produk dari Demak.

Salah satu sentra pembuatan kulit rebana di daerah demak adalah di Jl. Demak – Bonang Dk. Paesan RT 07 RW 03 Karangmlati. Usaha yang turun temurun dilakoni sejak tahun 1996 ini milik H Zaeni. Dan saat ini industri rebana ditekuni sang anak Afif. Sebelumnya mempekerjakan 14 orang karyawan, namun ditengah pandemi yang diiringi menurunya omzet saat ini hanya tinggak empat orang.

” Sebelum diterjang Covid-19 Omzet penjualan berkisar Rp. 50 juta per bulan, namun kini menurun hingga 30 % dari omzet penjualan. Selain dijual di toko dan media online, rebana ini juga dipasarkan oleh resseler ke beberapa kota ditanah air bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura ,Brunei Darusalam juga Korea selatan”.Jelas Afif.

Afif menambahkan menurunya omzet penjualan selain Pandemi Covid juga adanya persaingan bisnis dalam usaha yang sama, Rabu (16/9/20). Untuk itu dirinya selaku penerus usaha rebana H. Zaeni harus mengatur strategi dalam kwalitas dan modelnya mengikuti keinginan pasar.

Terkait kendala dalam memproduksi rebana Afif mengatakan ada pada bahan baku terutama stok kulit . Agar usahanya bisa terus bejalan dan pemulihan ekonomi serta memperkerjakan karyawanya kembali Afif berharap pandemi cepat selesai. ( kominfo/ist/rd)

Bagikan