Menu Close

Orang Jawa Harus Jawani Jangan Hilang Jawane

DEMAK – Prihatin dengan menipisnya penggunaan Bahasa jawa dalam komunikasi sehari hari di masyarakat, pemkab Demak melalui Bagian Kesejahteraan Masyarakat menyelenggarakan rakor peningkatan pengetahuan bahasa jawa. Dalam rangka pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pengembangan nilai budaya  diaula Gedung PGRI Demak, Senin 29 april 19. Acara yang bertemakan “ basa jawi minangka panyengkuyung mbangun Demak” Diikuti enam puluh enam(66) ASN di lingkungan pemerintah daerah, dengan menghadirkan nara sumber dari Permadani Demak. Tujuan dilaksanakanya kegiatan rakor ini selain untuk lebih memahami Bahasa daerah juga turut mnjaga dan melestarikan nilai budaya, sebab Bahasa jawa merupakan Bahasa yang Adi Luhung atau tinggi mutunya dan memiliki nilai seni budaya. Hal ini disampaikan oleh kabag kesra Anang badrul kamal dalam kata pengantarnya.

Menurut Mulyana SH staf ahli bupati yang mewakili Bupati Demak dalam sambutan pembukaanya, berharap para ASN memiliki kemampuan unuk menggunakan Bahasa jawa untuk berkomunikasi harian di masyarakat maupun kedinasan tanpa mengesampingkan Bahasa nasional. Apalagi sesuai dengan Edaran dari propinsi bahwa Bahasa jawa harus digunakan setiap hari Kamis. Ditambahkan, janganlah merasa malu atau merasa “wong ndeso” bila berbahasa jawa. Justru kita harus bangga memilikinya dan menggunakanya.

Sementara itu dua narasumber  Drs.Purwito dan Sudarmo dari Permadani Demak dalam materinya menyampaikan, banyak sekali kesalahan yang ditemui dalam penggunaan Bahasa jawa di lingkungan social. Hal ini menurut Purwito dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat. Jangan sampai orang Jawa kehilangan jawane untuk itu sebagai orang jawa harus jawani wajib bisa berbahasa jawa dengan baek dan benar. Sebagai contoh penyebutan Rencang Kulo (teman saya) ini kurang pas karena rencang berarti rewang (pembantu). Begitu pula saat ada tetangga bertamu dirumah, kebanyakan tuan rumah mempersilakan duduk dengan kalimat monggo pinarak ini kurang tepat karena kalimat Pinarak lebih tepat untuk mampir/disilahkan mampir (singgah).

Sudarmo dalam materi disaesen ke dua menambahkan banyaknya tulisan huruf yang sama, namun mengandung makna dan arti yang berbeda. Misalkan kalimat Loro ini berarti bisa sakit dan jumlah bilangan dua (2). Kemudian sering dijumpai penyebutan ‘ bapa’ dalam acara resmi oleh protocol juga kurang tepat, contoh ‘bapa Bupati’ semestinya cukup ‘bupati’ saja karena sebutan bapa digunakan dilingkungan keratin atau kerajaan. (Rdy)

Bagikan